Kamis, 25 Mei 2017
Everybody have their Timezone
Mari cerita dengan kehidupanku beberapa hari terakhir. Tadi pagi, aku jatuh konyol dari motor, karena terburu- buru takut ketinggalan meeting untuk event di salah satu Mall baru di Makassar. Sepulang dari situ, aku berenjak pergi ke rumah kekasih untuk menemuinya. Namun, hampir sekitar 50m sampai rumah beliau. Aku tersadar kalau dompetku jatuh. Jadi, mau tidak mau aku kembali ke tempat meeting tadi. Dan ternyata benar jatuh di tempat kami meeting tadi, dititipnya di Costumer Service atau Front Office atau apalah namanya.
Kemudian aku beranjak ke Pinggir Pantai menunggu Sunset (dekat dengan lokasi meeting) sambil mendengar lagu hingga baterai HPku habis. Kubatalkan ke rumah kekasih karena dia sedang pergi bersama temannya. Kupikir, lebih baik ku kerja tugasku untuk kuliah. Maklum, mendekati deadline dan HPku sedang lowbat. Aku pergi ke cafe, dan pas ketika tugasku selesai tiba- tiba aku dihubungi dan dijemput oleh teman SMA yang sedang cuti di Makassar, satu dari mereka adalah co-pilot dan satunya masih menunggu pengumuman di bidang yang sama. Yah, mungkin ini hikmah dari kejadian tadi.
Kami jalan bersama mencari makan. Syukur, dia mentraktir makan sushi di tempat yang boleh dikata "High Class". Hebat, pasti jalannya ketika menjadi yang sekarang pasti tidak mudah. Butuh proses, dan aku masih stuck di Semester Tua dengan SKS yang perlu dikejar. Seketika aku iri.
Kemudian, aku ingat 2 hari lalu. 4 dari teman angkatan jurusan sudah Sarjana. Aku ini seumur mundur untuk kuliah karena pindah kampus. Kalau angkatan SMA sudah banyak yang sarjana, bahkan sudah ada yang berkeluarga. Aku iri pada mereka. Tetapi siapa yang tahu masa depan setelah ini,,,
Dari kejadian itu aku belajar dan berpikir. Kenapa kita selalu menilai kehidupan orang lain, kalau kita sebenarnya memiliki kesempatan yang sama? Hanya saja mungin zona waktu kita berbeda. Setiap orang memiliki tujuan fokus yang berbeda. Mungkin saat ini teman- teman sudah selesai studi dan sukses dibidangnya, namun yang kalian akan alami sudah aku alami terlebih dahulu. Begitu juga sebaliknya, aku tidak merasakan yang teman- teman alami, namun kalian baru mau merasakan yang aku rasakan di dunia luar. Dan "kejadian" itu selalu beragam.
Setiap orang memiliki zona waktunya masing - masing. Intinya jangan sia- siakan masa mudamu dengan omong kosong. Fokus terhadap tujuan masing- masing. Dunia ini berputar, waktu ini terus berjalan, semua bisa berubah. Mungkin masalah utamanya adalah kita yang selalu menunda, tidak bersyukur, dan terlalu serakah.
Semoga kalian semua bahagia. Mari merenung dan perjuangkan zona waktu hidup kita masing- masing.
Rabu, 22 Februari 2017
Menulis (lagi). Tidak mau berharap
Saya sendiri lupa kapan terakhir menulis di blog lagi? Padahal dulu selalu punya niat untuk terus update minimal 1 kali seminggu. Niat tinggal niat. Cukup niat. Seperti yang mereka selalu katakan padaku. Pemberi Harapan Palsu. Cuih... Aku benci mendengar itu
Mungkin karena blog sudah tidak sekaliber sosial media lainnya. Akhirnya jadi jarang kubuka. Aku lebih senang melihat timeline instagram dan membalas pesan di WA. Sesekali di line dan BBM jika itu penting. Tapi mungkin hanya sampai malam ini siklus itu terjadi.
BBM sudah ku nonaktifkan. Begitupun instagramku yang sudah kuhapus fotoku yang penuh cerita. Anggap saja ku hapus cerita yang dari tahun 2013 ku simpan. Waktu dulu aku mengupload sebuah momen, bukan sekedar nyampah seperti para selegram itu. Yah, setiap foto punya cerita. 1 foto dengan beribu cerita, bukan 1000 foto dengan 1 cerita seperti para anak alay itu.
Aku sedang benci sebenci bencinya kepada diriku. Tolol. Entahlah, malam ini aku lepas kontrol, mungkin karena mencari pelampiasan hingga akhirnya ku hapus ceritaku di situ. Tapi tak apa, tidak baik kalau mau menyesal. We must go on.
Malam ini semesta kurang mendukung. Terlebih ketika dirimu mengharapkan dukungan, namun hanya todongan senjata yang kau dapatkan. Alhasil, aku pun ikut emosi. Sumber kehidupanku bermasalah. Marah mungkin setelah kupukul. Aku ingat 3 kali pukulan yang menyebabkan alat bantunya pun rusak. Terkadang dibawah tekanan aku menjadi buas, apalagi menyangkut hati. Terlalu sensitif untukku.
Mungkin seharusnya aku tidak mengharapkan sedikitpun dari manusia. Walaupun banyak orang yang selalu kunasehati seperti itu. Jangan mengharap dari manusia. Seperti boomerang, sekarang menimpaku.
Besok dan beberapa hari kedepan akan penuh dengan kejutan. Masa bodoh dengan pengharapan kepada manusia. Tidak mau lagi. Walaupun ada hati kepada manusia itu. Tidak pernah lagi mau berharap. Aku sendiri bisa berjuang. Kalau mau bantu aku syukuri dan ku ucapkan terima kasih. Tapi aku tidak mengharap. Cukup kau sikapi sendiri.
Kutulis postingan ini dengan hati yang tidak tau sedang merasa apa. Apakah benci, atau mungkin bahagia? Entahlah. Persetan dengan perasaan! Just keep moving on! Terima Kasih telah membaca.
Senin, 12 Desember 2016
My Fault Everywhere.
Yah, malam ini sial. Hujan dan Rindu. Ketika bisa video call, malah dibilang tidak peduli. Padahal aku liat pesanmu masuk. Aku bicara tanpa suara berkata "apa" lebih dari 1 kali. Memang aku sedang browsing.
Kemudian kita bertengkar, and you said to me "hanya kau yang mau dimengerti!". What?? Really?? LOL.
Then i realize. i was mute my computer sound -__-.
so i cant hear you. Mungkin kamu tadi berbicara lalu tersinggung. then you hate me. Ah, its suck for me. /sad
Walaupun aku mengatakan alasan yang sebenarnya, paling hanya akan menambah masalah dan kamu tidak percaya. coz no evidence.
Hah! Women!
Jadi, aku tulis di blog ini. Mungkin saja google mau mengerti. Manusia itu terlalu egois. Termasuk saya.
--
Selasa, 29 November 2016
i am not fat
.....
Jumat, 28 Oktober 2016
Hai, Namaku "TAMA"
Kejadian ini sekitar seminggu yang lalu, tepatnya 20 Oktober 2016. LINEku berbunyi, menandakan pesan masuk. Juniorku di SMA sekaligus teman seangkatan di kampus mengirimkan sebuah foto lelaki yang tidak asing bagiku sedang duduk di atas bus kampus. Mereka pulang menggunakan bus yang sama, maklum kampusnya sekaligus tempatku kuliah sudah dipindahkan keluar kota.
Temanku bertanya apakah dia ayahku, karena katanya sedikit mirip. Dan tebakannya benar, saya mengaku. hahahaha
Sebelumnya, aku ingin ceritakan sedikit tentang ayahku. Beliau adalah dosen Teknik Arsitektur disalah satu Universitas Ternama di Sulawesi Selawan, bergelar doktor yang cerdas, namun hidupnya lurus dan sederhana. PNS yang ideal, boleh dikata teladan.
Ketika temannya menikmati mobil baru dan mewah dengan proyek disana-sini, beliau malah fokus mengajar dengan mobil kijang kotak tua, dan bahkan lebih sering ke kampus mengendarai bus bersama staff dan beberapa mahasiswa.
Ketika temannya sering jalan liburan dan suka makan makanan yang kekinian, beliau lebih suka belajar dan makan- makanan sederhana dirumah bersama keluarga, bahkan seringkali membawa nasi kotak (bekal) untuk makan siang dikampus jika mengajar hingga sore. Masakan ibuku pastinya. Sungguh Romantis
Kembali ke pembahasan awal.
Temanku mengatakan kalau ayahku orang yang lucu. Ya, beliau memang jago melucu.
---------------Nama TAMA mungkin beliau ambil dari penggalan namaku : Putra Harda PraTAMA
Kira- kira begini yang diceritakan temanku :
-- Ada staff bertanya kepada ayahku (dengan dialeg orang Sulawesi) tapi aku sederhanakan : "Anak Bapak kuliah dimana??".
-- "di kampus ini" kata ayahku.
-- "Yang Mana? Namanya Siapa? Jurusan Apa?" kata staff itu
-- Kemudian dengan santai ayahku mengatakan "Tidak usah ditahu jurusan apa, namanya Tama. Cari kalau bisa dapat". Kemudian ayahku melanjutkan dengan kalimat "Biar dosen lain tidak tahu dia anak Dosen, biar kalau dapat C dikasih D, tidak usah di kasih naik nilainya"
---------------
Gokil cuyy... yah ini bukan pertama kalinya beliau seperti itu. Katanya dulu pernah ada dosen yang bertanya anaknya kuliah dimana, dia sebutkan Universitas B (tempatku kuliah sebelum pindah ke Universitas yang sekarang). Pastinya mereka heran kok anak Dosen disini kuliah disitu.
Sebenarnya, saya sih enjoy dan senang alias woles, ketika orang lain ingin tampil karena mengandalkan orang tua atau keluarganya. Saya tidak mau seperti itu, dia ya dia, saya ya saya. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah ayah saya. Maksudku seperti itulah caranya mendidik. Anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Bisa dikata anti-mainstream, ketika jaman sekarang banyak orang yang mengandalkan keluarga untuk mencari jalan pintas.
Padahal, kalau dipikir- pikir, kalau aku sebut namanya dibeberapa tempat, jalanku bisa dipernudah dan orang akan melihatku dua mata. Tapi, nanti jadinya hidupku tidak seru.
Sekian dulu.
*ditulis ketika berteduh di kafe menunggu hujan reda, coklatnya sunggah nikmat. Sudah waktunya pulang



