Senin, 29 Juli 2013

Keburukan itu mungkin Kebaikanku

Mungkin aku tidak tahu harus mengadu kemana sekarang selain kepada Tuhan. Jikalau aku ingin menceritakan semuanya, pasti ini menyangkut kehormatan. Aku tidak ingin melukai semua yang pernah memberikan kepercayaan kepadaku. Kenyataannya ini di luar rencana yang kuperkirakan. Aku rasa memang aku yang salah. Sangat bersalah.

Bingung jika kita bercerita dan mencoba mengungkapkan rasa. Apalagi jika rasa itu mengambang diantara tangis dan tawa. Bingung untuk menerima kenyataan yang telah terjadi. Bingung untuk menatap masa depan yang akan dijalani. Bingung akan yang terjadi kemarin, kejadian yang semestinya tidak menyesatkan seperti sekarang. Seakan keadaan yang berbuat tidak semestinya, perubahan dari faktor eksternal tingkat nirwana. Memang sulit untuk dijangkau.

Tapi, sebagai manusia biasa kita cuman bisa pasrah akan ketetapan yang diberikan Tuhan. Tuhan memiliki konsep yang matang. Karena kehidupan itu sempurna jika ada kebaikan ataupun kejahatan. Dimana dimata kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa di dalam kebaikan terkadang terkandung kejahatan. Begitu pula, sebaliknya, didalam kejahatan terkadang mengandung kebaikan.

Aku saat ini mendapatkan sebuah keburukan yang mungkin akan berakhir dengan kebaikan. Aku cuman bisa percaya itu. Karena tuhan tidak akan menguji makhluknya di luar batas kemapuannya.

Jumat, 05 Juli 2013

Puisi dari Seberang

Sebelumnya, aku dan dia (selanjutnya dibaca : kami). Berhubungan melalui ponsel dari pertemuan di akhir bulan Juni lalu. Kami menjadi lebih akrab, sampai akhirnya mencoba lebih dekat. Yah, lebih dekat dari kata "dekat" yang kalian kenal. Kisaran awal bulan Juli, kami mencoba bertukar ide. Sebuah ide khayalan yang dirangkai melalui kata. Mungkin kalian biasa mendengar puisi. Tema yang bebas. Sampai akhirnya aku mengirimkan ini pada 5 July 2013 tengah malam.

6 July 2013, aku mendapat balasan dari dia di seberang sana. 



Remaja Malam
Malam yang kelam. Aku diam terpaku menjadi saksi bisu aksi anarkis mereka yang lengah.
Diamku seakan menjadi psikolog yang tiada henti memikirkan mereka yang terlunta-lunta, terbawa ombak liar. Terseret hembusan angin malam yang mengamuk, mengajak mereka hancur.
Sesalku sealu terlintas saat kupejamkan mata ini, seakan tidurku menjadi sebuah PR yang entah bagaimana menyelesaikannya.
Rumit, tanpa rumus.

Lewat sebaris perkataan yang terbesit dalam hati, mencoba untuk kurangkai. 
Sungguh aku tak bisa diam membisu. Menggenggam kesesalan, kemalangan terhadap mereka yang pergi jauh.
Jauh ke puri kahyangan.

-by: Mega Permatasari


Dari gambaran di kepalaku. Dia mencoba mendiskripsikan kehidupan remaja jaman sekarang. Remaja yang hilang akan arah, menjadi manusia semena-mena. Mendeskripsikan mereka yang hidup lebih merdeka dimalam hari. Memang itu meresahkan. Itu masalah kita bersama. Itu gambaran dariku, Apa gambaran kalian mengenai puisi dari dia??


Senin, 01 Juli 2013

Semarang-in-History : I Meet Om Jon and Some Nice People

Bonjour... Gue balik lagi buat share cerita tentang apa aja di "S-E-M-A-R-A-N-G".

De voyager en Java, nous avons rencontré beaucoup de bonnes personnes. En Surabaya il M. Hadi, Topak père, le père de Heru, le père de Firman, et bien plus encore. Bang on y Confrérie de Semarang, Ali Mang, Mang Diman, oncle Jon, et bien plus encore. Ces gens qui aiment partager la bonne, même pour la première fois qu'ils se rencontraient.

Sekarang kan udah keren-kerennya Paris (palagi di kalangan cewek), jadi pembukanya gue coba aja pake bahasa perancis. Biar cewek-cewek yang kebelet bin kepelet pada kelelep liat gue yang semakin kerep (baca : keren #maksa) pake bahasa perancis. Buat yang bingung nih aslinya.

translete: (using google translate)
Selama perjalanan di jawa, kami bertemu banyak sekali manusia baik. Di surabaya ada Bapak Hadi, bapak Topak, bapak Heru, bapak Firman, dan masih banyak lagi. Di Semarang ada Bang Ikhwan, Mang Ali, Mang Diman, Om Jon, dan masih banyak lagi. Mereka orang yang suka berbagi kebaikan, bahkan untuk orang yang pertama kali mereka kenal. Salute... étonné...

Pokok e gue respect dah selama di Jawa kami bertemu dengan orang yang baik. Padahal kami baru pertama kali ketemu loh. Sebagai contoh buat Bapak Hadi yang dengan sabar mengatasi masalah kami di Bandara. Bicara dengan tulus dan Santun. Keluar dari Bandara ada Pak Topak (Supir dari Kak Ica) dan Pak Heru (Bawahan bos keponakan bu Guru). Mereka dengan hati yang senang membawa kami keliling Surabaya sejenak hingga akhirnya ketemu dengan Mas Firman di Travel (Travelnya mas Firman namanya "Trans Jaya"). Savory....

Mas Firman itu orang yang baik banget. Boleh dikata beliau menikmati pekerjaannya dan mensyukuri apa adanya. Bahkan kami sering salah tunjuk jalan dan beliau tidak marah dan tetap tersenyum. Beliau mengemudikan mobilmya dengan gemulai tanpa beban. Pulang dari semarang pun masih di Back Up sama dia, walaupun ujungnya bukan pake jasa Mas Firman. Sebelum sampai di Bandara Juanda, beliau juga sempat telepon dulu nanyain kabar dan tempat kita pada saat itu. Incroyable...